Harga Listrik Mahal, Warga Rusun Rawa Bebek Mengeluh

Siaran Pers - kamis, 16 juni 2016 - 23:23 WIB

Bekas warga Pasar Ikan yang kini tinggal di Rumah Susun Rawa Bebek mengeluh tingginya biaya hidup. Salah satu yang memberatkan mereka adalah tarif listrik yang dinilai terlampau tinggi. Per bulan, rata-rata warga mengeluarkan Rp100 ribu hingga Rp150 ribu untuk membeli voucher listrik. Pengeluaran itu dirasa jauh lebih tinggi dibandingkan saat mereka hidup di Pasar Ikan, Kecamatan Penjaringan, Cakung, Jakarta Utara. Padahal, ujarnya, tenaga listrik pada unit yang ditempatinya sejak dua bulan lalu hanya untuk televisi, kulkas, dan kipas angin. Untuk mendapatkan tenaga listrik, kata Bambang, ia membeli voucer senilai Rp50 ribu di pengelola rusun dan daya yang diperoleh hanya 29,4 Kwh, seperti dilaporkan Metrotvnews.com. Daya listrik sebesar itu hanya bisa digunakan untuk satu pekan. Setelah itu, harus membeli lagi. Keluhan senada diungkapkan Ardi, 38. Ia mengaku bisa menghabiskan biaya listrik Rp200 ribu per bulan. Saat warga protes, lanjutnya, barulah pengelola menaikkan kuota token seharga Rp50 ribu menjadi 36 Kwh. Karena itu, Ardi meminta Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok turun tangan agar pembelian token listrik tidak harus di pengelola rusun. Sebab, daya listrik dari token yang dijual di luar rusun lebih banyak. Kepala Unit Pengelola Rusun Rawa Bebek Ani Suryani, saat dimintai konfirmasi, mengatakan harga token dan kuota listrik yang dijual kepada warga sudah sesuai standar PLN. Ia mengakui awalnya harganya memang tinggi karena ada biaya pajak. Namun, saat ini beban pajak ditanggung pengelola rusun dari dana APBD DKI. (ma/mt)


Latest post